Hai, apa kabar..? semoga kamu yang baca artikel ini lagi sehat semua ya..
Jangan sampe kamu sakit gara-gara salah makan sesuatu yang katanya tahan lama, tapi kok malah sebaliknya. Kalo sampe kayak gitu, berarti kamu perlu nih baca artikel yang satu ini.
Akhir-akhir ini kamu pasti sering dong ketemu sama makanan yang tahan sampe bertahun-tahun ketika disimpen... Yup… paling mudah kita bisa nemuin ini di supermarket. Karena semakin tahan lama, supermarket makin untung, hehe…
Kalo kita baca kata pengawet, yang ada dikepala kita biasanya tertuju pada suatu teknologi yang modern, yang ketika barang diproduksi, pake mesin semua dan tanpa ada campur tangan manusia, sehingga hasilnya higienis.
Ternyata…
Engga kok, ternyata teknologi pengawetan sudah ada dari zaman fir’aun, sejak zaman jadul aja udah ada… keren gak??
Buktinya mayat dari raja mesir itu masih ada bentuknya hingga saat ini dan tidak hancur. Kamu tau penyebabnya?
Ternyata sebabnya itu :
Bakteri di jasad fir’aun mati karena diberi zat tambahan. Jadi bakteri gak bisa deh makan jasad itu.
Konsepnya :
Matikan bakteri yang hidup dibenda itu, maka ia tidak akan membusuk.
Kalau dalam kasus fir’aun, orang dulu biasanya pakai balsem. Eh tunggu dulu… emang mayatnya keseleo kok pakai balsem..?
Enggak, enggak, enggak, kalo yang ini bukan masalah keseleonya, tapi sifat balsemnya.
Balsem itu punya sifat tidak dapat digunakan sebagai media tumbuh bakteri. Karena bentuknya yang pekat dan tentunya ada rasa panas kalau dioleskan ke kulit mahkluk hidup.
Sifat ini yang ternyata dapat membunuh bakteri pengurai di jasad itu.
Untuk pengawetan sederhana bisa enggak pake bahan yang lain?
Jawabannya
Bisa. Kita sering kok lihat makanan yang pakai bahan pengawet alami. Yaitu ikan asin.
Ikan asin, adalah cara nelayan untuk mengawetkan hasil tangkapan agar bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Sehingga kalau sedang ada badai, atau musim yang kurang bersahabat. Mereka masih punya cadangan makanan.
![]() |
| Pengawetan Ikan laut oleh garam |
Selain itu juga, dengan diawetkan begitu, cara pendistribusiannya juga lebih mudah. Jadi untuk pengiriman jarak jauh, nggak perlu khawatir ikannya membusuk.
Kedua cara yang udah di sebutin diatas, sebenernya punya persamaan. Keduanya punya konsep pengawetan yang sama, sehingga bisa tahan lama asalkan tidak terkontaminasi air.
Kuncinya yaitu
Apa itu osmosis?
![]() |
| Proses Osmosis pada Bakteri |
Osmosis adalah perpindahan molekul air melalui selaput semipermiabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh pelarut, tetapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran.
Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tetapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer.
Ribet enggak?
Intinya kalau kita punya 2 cairan, yang satu encer dan yang satu kental. Kemudian keduanya ditaruh diwadah yang sama dan di batasi dengan lapisan seperti saringan (membran) maka cairan yang encer akan terhisap oleh cairan yang lebih kental. Sampe keduanya sama sama encer. Sehingga cairan yang encer akan berkurang.Kurang lebih gitu, terus apa hubungannya encer-kental sama bakteri?
Jadi gini…
Seperti yang kita tahu, setiap makhluk hidup pasti mengalami proses yang dinamakan dengan metabolisme, Bahasa sederhananya adalah proses mengkonversi makanan yang dimakan dan dijadikan energi untuk bergerak dan tumbuh. Sebagai sampingannya pasti ada kotoran atau sampah organik yang dihasilkan juga.Berita buruknya, mikroorganisme pun bersifat demikian, sehingga jika mereka hinggap di makanan, mereka akan mencerna makanan tersebut dan menghasilkan output kotoran yang bermacam macam, parahnya jika yang dikeluarkan ini adalah materi yang bersifat racun.
Biasanya ini dilakukan oleh bakteri dan jamur. Inilah yang menyebabkan makanan menjadi busuk.
Makhluk yang telah kita bahas diatas ini, dalam tubuhnya memiliki cairan internal. Tanpa cairan ini, bakteri ataupun jamur pun tidak akan bisa bertahan hidup. Berhubung sel kulit dari mikroorganisme ini adalah membrane semipermeable. Maka peristiwa osmosis dapat terjadi.
Proses bakteri mati
Jika kita melihat gambar proses osmosis diatas, Ketika garam yang konsentrasinya lebih pekat dari pada cairan internal mikroorganisme dipertemukan dalam satu wadah, cairan internal yang berwarna biru muda akan keluar dari tubuh mikroorganisme dan diserap garam sampai konsentrasi kepekatan garam dan cairan sama, sehingga volume cairan ini menjadi lebih sedikit. Cairan internal akan keluar sampai habis sebelum konsentrasi keduanya sama. Sehingga mikroorganisme akan mati karena kehabisan cairan. Bahasa sederhananya mati karena dehidrasi.Tapi garam yang bisa digunakan untuk melakukan pengawetan tidak sembarangan. Hanya yang dicampurkan dalam suatu pengawetan memiliki kadar tertentu saja yang bisa. Karena ini juga akan mempengaruhi ketahanan makanan terhadap kelembaban udara. Untuk takaran minimal kepekatan kadar garam adalah 25%. Semakin banyak garam yang digunakan, maka akan semakin tahan lama juga bahan makanan tersebut. Yang terpenting adalah kondisi makanan yang diawetkan nantinya tidak berada di dalam ruangan yang kelembabannya tinggi.


