Tata Letak Kota
Tata letak kota pada masa Islam menyatukan antara karakteristik tata letak kota pada peradaban sebelumnya dan banyak menambah nuansa keislaman, sehingga terbentuklah tata letak dan penataan kota yang maju dari segala segi. Bahkan penataan kota di Eropa terpengaruh oleh penataan kota pada masa Islam, terutama dalam hal-hal berikut:- Pada bangunan dan perencanaan penataan kota
Bangsa Eropa merasa bangga dengan kebesaran kota Qordova sebagai pusat pemerintahan Umawiyah di Andalusia yang merupakan kota terbesar di Eropa pada abad kesepuluh Masehi hingga tidak dapat dibandingkan dengan kota-kota Eropa lainnya, termasuk Konstantinopel yang merupakan ibukota Imperium Bizantium.Untuk menjelaskan kebesaran Qordova, kita cukup membandingkan bahwa jalan-jalan di kota Qordova telah dihiasi dan diterangi pada saat jalan-jalan di kota-kota Eropa lainnya penuh dengan kotoran.
Jalan-jalan di Qordova dibekali dengan jaringan saluran air tawar dan jaringan pelayanan kesehatan, pada saat kota-kota di Eropa mengalami keterbelakangan dan dipenuhi bau pesing, kotoran manusia dibuang di tengah jalan, yang justru menambah buruk pemandangan kota.
Bangsa Eropa telah belajar tekhnik perencanaan dan penataan kota-kota Islam, dan mereka meniru bangunan Is1am. Rumah-rumah di Eropa terpengaruh oleh gaya dan arsitektur rumah Arab yang memiliki halaman dalam. Dari halaman dalam inilah rumah dapat dibuka tanpa harus membuka bagian luarnya secara langsung.
Demikian juga dengan penataan letak jendela yang membuat rumah orang muslim mendapatkan cukup cahaya dan udara tanpa kelihatan oleh orang-orang yang melintas di luar rumah. Selain dari itu, banyak dipergunakan cat warna putih pada rumah.
Pengaruh ini telah menyebar di Amerika Utara dan Selatan bersamaan dengan datangnya orang-orang Spanyol ke Amerika, hingga saat ini banyak kita jumpai kemiripan antara rumah orang muslim di Andalusia dengan rumah-rumah lama di wilayah Florida Amerika yang telah dibangun oleh orang-orang Spanyol, dan rumah-rumah perkampungan di Meksiko.
Akibat pengaruh kebudayaan Arab yang menyeluruh pada berbagai aspek kehidupan, orang-orang Eropa belajar cara menanam pohon, tumbuh-tumbuhan, dan tanaman hias di halaman rumah mereka yang pada saat sekarang dikenal dengan sebutan taman rumah. Bangsa Arab memang bukan yang pertama kali membuat taman di rumah, akan tetapi mereka sangat memperhatikan dan dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan.
Bangsa Eropa telah meniru perhatian seperti ini sehingga menjadi tradisi di kalangan mereka. Sebagaimana juga kaum muslimin memperhatikan pendirian sekolah. Mereka adalah orang yang pertama kali memperhatikan penyebaran rumah sakit yang dilengkapi dengan berbagai peralatan medis untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada semua warga masyarakat dan tradisi ini juga akhirnya ditiru oleh bangsa Eropa.
Dalam menjaga kebersihan dan pendirian toilet umum: Untuk pertama kalinya, etika hidup bersih menjadi prilaku masyarakat dalam peradaban Islam. Orang muslim memperhatikan mandi, kebersihan, dan wudhu' sebagai perintah dari hukum agamanya.
Prilaku hidup bersih ini telah menjadi tradisi hingga menjadi salah satu dari ciri-ciri mereka. Bahkan orang-orang miskin di Andalusia tetap mempergunakan uang terakhir yang dimilikinya untuk membeli sabun agar ia dapat pergi ke masjid dan tempat-tempat umum dalam keadaan bersih dan berpenampilan baik.
Ia tidak perduli apakah setelah itu ia harus tidur di atas tikar. Pemerintahan Islam kemudian memperhatikan perlunya mendirikan toilet-toilet umum dan menyebarkannya di seluruh penjuru kota-kota Islam, sehingga menjadi fenomena kehidupan sehari-hari umat Islam.
Mari kita baca pernyataan yang ditulis oleh Stanley Lane Poole tentang toilet umum dan kebersihan dalam Islam, dalam bukunya "The Story of The Moors i Spain," "Toilet-toilet umum memiliki peranan yang besar di kota-kota Islam, karena kebersihan bagi kaum muslimin bukan saja sekedar iman saja, melainkan juga syarat yang harus dilakukan untuk melaksanakan shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Pada saat itu, orang-orang Kristen yang hidup pada abad pertengahan melarang kebersihan dan menganggapnya sebagai perbuatan orang-orang yang menyembah berhala. Para pendeta bangga dengan kotoran mereka hingga ia tidak pernah tersentuh air sama sekali kecuali jari-jarinya, itu pun ketika dicelupkan ke air gereja yang mereka sebut sebagai air suci.
Saya katakan; Ketika kotoran itu menjadi ciri dari kesucian bagi kita, kaum muslimin sangat memperhatikan kebersihan. Mereka tidak beribadah kepada Tuhan-nya kecuali apabila mereka telah bersih dan bersuci.
Ketika Spanyol kembali dikuasai oleh penguasa Kristen, Raja Philip II memerintahkan agar merobohkan toilet-toilet umum, karena dianggap sebagai peninggalan kaum muslimin." Sekarang kebersihan telah menjadi prilaku umum di Eropa dan negara-negara Barat, akan tetapi mereka melupakan sama sekali hutang budi mereka kepada kaum muslimin dalam hal ini, yang sekarang kebersihan justru dianggap sebagai ukuran kemajuan suatu bangsa.
Budaya dari Islam
- Dalam berpakaian
Orang-orang Eropa banyak mengambil unsur-unsur mode yang ada pada pakaian Arab, terutama yang berhubungan dengan pakaian wanita dan pakaian orang berilmu. Misalnya cadar yang dibuat dari kain yang transparan dan berlubang yang dipakai oleh para wanita Eropa di wajah mereka, bahkan ini menjadi simbol tersendiri bagi kalangan bangsawan.Anehnya, cadar seperti ini sampai sekarang masih ada, akan tetapi penggunaannya terbatas pada tukang besi. Demikian juga dengan topi toga yang dipakai di kalangan kampus. Di antaranya juga cadar yang dipakai oleh para pengantin wanita dan diangkat oleh pengantin pria pada malam pesta pengantin. Asalnya pemakaian cadar seperti ini terkait dengan tradisi orang Arab dan tidak ada hubungannya dengan tradisi orang Eropa.
Akan tetapi mereka memakainya dalam pesta pengantin. Orang Eropa juga belajar dari kaum muslimin kebiasaan mengkhususkan berbagai macam pakaian untuk berbagai acara dalam setahun. Kebiasaan ini dibawa ke Andalusia oleh seorang penyanyi Persia yang terkenal, yaitu Zaryab.
- Dalam tata cara makan
Orang Eropa belajar dari kaum muslimin seni memasak dan tata cara yang berhubungan dengan penyajian makanan, seperti giliran penyajian makanan yang diakhiri dengan memakan roti atau buah-buahan. Demikian juga dengan penyajian makanan kepada orang terhormat yang menggunakan Garpu, pisau, dan sendok sebagai ganti dari makan dengan tangan.Cara makan seperti ini sebenarnya didapatkan oleh orang Arab dari peradaban Persia yang merupakan peradaban termaju pada masanya. Akan tetapi mereka mengembangkannya sesuai dengan cara-cara yang Islami dan apa yang seharusnya dilakukan dalam menghormati tamu.
Tradisi ini berpindah ke Eropa secara besar-besaran melalui gaya hidup seorang penyanyi Arab bernama Zaryab ketika ia pindah dari Baghdad ke Andalusia dengan membawa kebiasaan orang Persia dan nilai-nilai tradisi Dinasti Abbasiyyah serta selera makannya yang tinggi. Ia berhasil membuat perubahan yang besar dalam kehidupan sehari-harinya seperti cara berpakaian, berpenampilan, dan penataan perabot rumah serta tradisi-tradisi yang berhubungan dengan pola makan.
Di antaranya dengan mengganti tempat minuman yang semula menggunakan emas dan perak di rumah para bangsawan dengan menggunakan gelas kaca. Cara hidup seperti ini tetap bertahan di Andalusia dan kemudian berpindah ke rumah para bangsawan lalu menyeluruh ke seluruh lapisan masyarakat Eropa.
- Permainan yang menghibur
Bangsa Arab meniru beberapa jenis permainan dari dua peradaban besar, yaitu peradaban Persia dan peradaban India seperti; permainan catur, dadu, dan dama. Sedangkan bangsa Eropa meniru permainan ini dari bangsa Arab dan mengembangkan penggunaannya, terutama catur yang dikembangkan oleh bangsa Eropa menjadi lebih lengkap dan menjadi permainan yang mengutamakan pikiran seperti yang kita ketahui pada saat sekarang.- Dalam seni tenun dan tekstil
Bangsa Arab juga unggul dalam seni tenun seperti; menyulam, menjahit, dan membordir. Sebelumnya seni tenun seperti ini dilakukan oleh orang Arab pedalaman, seperti macrame (bahasa Inggris) yang berasal dari bahasa Arab "Makhramah." Sebagian seni tenun ini muncul di Syam, Persia, atau di negara lainnya yang berperadaban.Seni tenun ini kemudian dibawa ke Andalusia dan Sisilia. Dari kedua kota inilah seni tenun menyebar di Eropa. Sebagaimana juga kesenian "Aubttsson" yang terkenal di Prancis merupakan kesenian asli Andalusia yang masuk ke Prancis bersamaan dengan datangnya penduduk migran ke Andalusia dan mengungsi ke Prancis karena lari dari tekanan penguasa pada saat itu. Kesenian ini kemudian mencapai puncak kemajuannya di Prancis dan menjadi terkenal.
